Amunisi BRI masih kental untuk menggenjot kredit UMKM

Uncategorized86 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Joko Widodo atau Jokowi baru-baru ini menyoroti pertumbuhan kredit perbankan. Ia meminta perbankan lebih ekspansif dalam menyalurkan pembiayaan, khususnya kepada UMKM.

Secara keseluruhan, kredit UMKM tumbuh sebesar 8,3% year-on-year (y-o-y) pada tahun ini. Namun, secara lebih rinci, distribusi pendanaan di kalangan UKM mengalami penurunan.

Kredit mikro akan mendukung pertumbuhan UMKM hingga tahun 2023, menurut Bank Indonesia. Pada bulan Oktober, segmen pembiayaan ini naik 25,3% dari tahun ke tahun seiring dengan menurunnya volume pinjaman skala kecil dan menengah.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, bank yang fokus pada segmen UMKM, melaporkan pertumbuhan penyaluran kredit di atas rata-rata industri per September 2023. Penyaluran kredit UMKM juga meningkat di tengah melambatnya kinerja industri.

Mengutip laporan perusahaan, hingga September 2023, BRI telah menyalurkan kredit sebesar Rp 1.250,7 triliun, naik 12,5% year-on-year. UMKM menyumbang 83,06% atau Rp1.038,9 triliun.

Pada September 2023, emiten bersandi BBRI ini mencatatkan pertumbuhan kredit UMKM sebesar 11,01% year-on-year. Bisnis skala menengah mendukung pertumbuhan, meningkat sebesar 30,1% dari tahun ke tahun. Sektor kecil dan menengah kemudian tumbuh masing-masing sebesar 11,6% dan 5,0% YoY.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, ruang lingkup pertumbuhan penyaluran kredit pada perusahaan yang dipimpinnya masih terbuka lebar.
Bank juga melaporkan ruang likuiditas yang cukup. Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan per September 2023 berada pada level 87,76%, berada di bawah level optimal sebesar 90-92%.

Oleh karena itu, BRI akan terus aktif menyalurkan pinjaman hingga akhir tahun ini. “Saya kira yang paling penting adalah dalam situasi di mana pertumbuhan diperlukan, namun likuiditas terbatas, kita harus memanfaatkan likuiditas itu sendiri secara optimal dan benar-benar optimal. Bagaimana kita melakukan ini? Ini yang kita sebut likuiditas yang baik, tidak berlebih dan juga tidak langka,” kata Sunarso seperti dikutip, Kamis (12/7/2023).

Baca Juga  Investor, persiapkan hati Anda! Pekan depan IHSG penuh kejutan

Bank juga melaporkan perbaikan kualitas aset dengan rasio kredit bermasalah turun 2 basis poin (bps) menjadi 3,07%. Posisi pinjaman berisiko (LAR) atau pinjaman berisiko juga membaik dari 16,54% pada tahun 2022 menjadi 13,8% pada September 2023.

Meski mengalami penurunan, BRI terus meningkatkan cakupan LAR dari 49,4% pada tahun 2022 menjadi 50,92%.

Pada periode yang sama, NPL coverage BRI masih relatif tinggi meski sudah cenderung menurun. Hingga triwulan III tahun 2023, NPL coverage BRI tercatat sebesar 228,65% dari sebelumnya sebesar 305,73% pada tahun 2022.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Seni Kepemimpinan dalam Krisis, Sunarso: Kita Harus Menang!

(mx/mx)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *