AS Bawa Kabar Buruk: Rupee Rawan Koreksi Hari Ini!

Uncategorized321 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah terlihat mulai menguat menyusul rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia (BI). Meski demikian, data neraca perdagangan Amerika Serikat (AS) yang menyempit dan prospek perlambatan ekonomi global masih menjadi risiko yang akan membebani rupee saat ini.

Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan Selasa (1/9/2024) kemarin, mata uang Garuda ditutup pada INR 15.515/USD atau naik 0,03%. Penguatan tersebut mematahkan tren pelemahan yang konsisten terjadi selama lima hari terakhir sejak 2 Januari 2024.

Sedangkan DXY kemarin pukul 14.47 WIB masih naik tipis 0,01% di 102,21. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan Senin (1/8/2024) yang berada di 102,20.


Penguatan rupee kemarin diyakini disebabkan oleh data IKK Desember 2023 yang naik menjadi 123,8 dari bulan sebelumnya 123,6.

Peningkatan kepercayaan konsumen pada Desember 2023 didorong oleh menguatnya indeks kondisi perekonomian saat ini (IKE). Peningkatan IKE tercatat terutama pada tahun

Indeks Pembelian Barang Tahan Lama. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) terhadap kondisi perekonomian 6 bulan ke depan masih kuat didukung oleh Indeks Ekspektasi Pendapatan.

Kenaikan IKK menandakan konsumsi masyarakat Indonesia semakin membaik dan menunjukkan kinerja perekonomian Indonesia yang baik.

Meski begitu, rupee masih berpotensi mengalami volatilitas pada hari ini, Rabu (10/1/2024), seiring dengan dirilisnya data neraca perdagangan AS tadi malam dengan hasil yang kurang memuaskan.

Data neraca perdagangan AS November 2023 dirilis tadi malam waktu Indonesia. Data menunjukkan defisit perdagangan Negeri Paman Sam menyempit secara tak terduga pada November 2023 karena impor yang lebih rendah, menurut Biro Sensus Departemen Perdagangan AS.

Baca Juga  Resmi Jadi Istri Tengku Tezi, Tyas Mirasih Undang Mantan ke Pernikahannya

Pada November 2023, defisit perdagangan turun 2% menjadi US$63,2 miliar. Data hingga Oktober 2023 direvisi sedikit untuk menunjukkan bahwa defisit perdagangan melebar menjadi US$64,5 miliar, dibandingkan US$64,3 miliar seperti yang diberitakan sebelumnya.

Sementara ekspor AS pada November 2023 turun menjadi $253,7 miliar, di bawah posisi Oktober 2023. Impor juga turun menjadi $316,9 miliar. Defisit barang yang menyempit dan surplus jasa yang meningkat membantu mengurangi defisit secara keseluruhan.

Sentimen lain adalah Bank Dunia, dalam laporan Prospek Ekonomi Dunia terbarunya untuk Januari 2024, memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat menjadi 2,4% tahun ini dari 2,6% pada tahun 2023.

Perekonomian global diperkirakan hanya tumbuh 2,7% pada tahun 2025, turun dari 3,0% pada bulan Juni tahun lalu.

Pertumbuhan sebesar 2,6% pada tahun 2023 juga akan menjadi yang terlemah dalam 50 tahun, tidak termasuk resesi global selama pandemi. Bank Dunia juga memperkirakan untuk pertama kalinya pertumbuhan ekonomi akan terus menurun selama tiga tahun berturut-turut.

Dengan pertumbuhan hanya berkisar 2%, Bank Dunia menyebut awal tahun 2020-an (2020-2024) sebagai periode terburuk dalam 30 tahun terakhir. Menurut Bank Dunia, perekonomian global akan melemah akibat dampak kebijakan moneter yang lebih ketat, terbatasnya ekspansi keuangan, dan lemahnya investasi dan perdagangan global.

Bank Dunia juga memperingatkan bahwa terdapat risiko besar terhadap pertumbuhan di masa depan akibat konflik di Timur Tengah, gangguan pada pasar komoditas, tingginya biaya pinjaman, meningkatnya utang, melambatnya perekonomian Tiongkok, inflasi yang masih tinggi, dan perubahan iklim yang ekstrem.

“Prospek untuk dua tahun ke depan suram. Sebagian besar negara, baik negara maju maupun berkembang, akan tumbuh lebih lambat pada tahun 2024 dan 2025 dibandingkan dekade sebelum Covid-19,” tulis Bank Dunia dalam Global Economic Prospects. Laporan Januari 2024 dirilis pada Selasa (9 Januari 2024).

Baca Juga  Antara Ganjar-Prabowo-Anis, IHSG di pihak mana?

Sementara untuk Indonesia, Bank Dunia mempertahankan perkiraan pertumbuhan tahun ini sebesar 4,9%. Namun, mereka memangkas perkiraan untuk tahun 2025 menjadi 4,9% dari 5,0% pada perkiraan yang dibuat pada bulan Juni tahun lalu.

Bank Dunia telah memperingatkan bahwa Indonesia tidak akan lagi mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga komoditas pada tahun ini dan tahun depan. Seperti halnya negara-negara Asia, Indonesia juga akan terkena dampak perlambatan ekonomi di Tiongkok.

Teknis Rupee

Secara teknikal secara grafik 1 jam, rupee saat ini masih dalam tren sideways. Selanjutnya, rupiah mungkin akan menguji support di Rp 15.500 per dolar AS. Posisi tersebut mendekati garis rata-rata 50 jam atau moving average 50 (MA50) yang menjadi target penguatan mata uang Garuda dalam jangka pendek.

Meski begitu, kita masih perlu mengantisipasi apakah akan terjadi pembalikan pelemahan dengan mewaspadai resistance terdekat di Rp 15.535/USD. Posisi ini diperoleh dari garis horizontal berdasarkan top candle yang diuji pada 4 Januari 2024.

RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Rupiah yang dihantam The Fed mencapai Rp 15.500

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *