Bisnis medis kian seksi: Inilah enam taipan rumah sakit Indonesia

Uncategorized177 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten PT Charlie Hospital Semarang Tbk. (RSCH) tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir bulan lalu. Saham RSCH juga masuk dalam daftar saham rumah sakit di bursa.

Saat ini terdapat 12 emiten RS yang tercatat dan diperdagangkan di bursa. Jadi Anda tidak hanya bisa berobat di sana, tapi juga memiliki saham.

Di belakang emiten pengelola tersebut terdapat sejumlah konglomerat Indonesia. Lalu siapa yang mengelola emiten rumah sakit di Indonesia?

Dato’ Sri Tahir

Pria kelahiran Surabaya, 26 Maret 1952 ini merupakan pemilik Mayapada Group yang bergerak di berbagai bidang mulai dari perbankan hingga kesehatan, yakni Mayapada Hospital atau Rumah Sakit Mayapada. Beliau merupakan pemegang saham mayoritas PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ), Manajer RS ​​Mayapada.

Dia memiliki 0,02% saham SRAJ. Putrinya Jain Devi Tahir juga menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 0,42%.

Mayapada Hospital merupakan salah satu rumah sakit swasta terbaik yang didirikan oleh Healthcare Group pada tanggal 1 Juni 2008 setelah mengakuisisi Honoris Hospital di kawasan hunian eksklusif Modern Land Tangerang. Sebagai bagian dari komitmennya dalam memberikan layanan kesehatan berstandar internasional, Mayapada Hospital telah bermitra dengan National Health Group of Singapore.

Dato’ Sri Tahir saat ini menduduki peringkat keenam orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Harta kekayaan Tahir dan keluarganya diperkirakan mencapai US$5,3 miliar atau setara Rp 79,28 triliun.

Martua Sitorus

Jacqueline Sitorus, putri konglomerat Martua Sitorus, merupakan pemegang saham mayoritas PT Murni Sadar Tbk. (MTMH). Emiten merupakan pengelola RS Murni Sadar yang memiliki total 6 rumah sakit yaitu 5 RS Murni Teguh dan 1 RS Ibu dan Anak Rosiva dengan total kapasitas 858 tempat tidur.

Baca Juga  Berhasil Jual Lebih dari 100 Ribu Produk Dalam Sehari, Ruben Onsu Cetak Omzet Milyaran di Shopee Live

Martua sendiri adalah seorang taipan yang sangat kaya raya dari usaha perkebunan kelapa sawitnya yang telah mengembangkan usahanya ke berbagai sektor, termasuk rumah sakit. Menurut Forbes, asetnya saat ini bernilai US$3,2 miliar atau Rp 47,87 triliun.

Keluarga Boenjamin Setiawan

Konglomerat Indonesia terkaya pemilik jaringan bisnis rumah sakit di Indonesia adalah mendiang Boenjamin Setiawan yang lahir pada 23 September 1933 di Tegal, Jawa Tengah dan meninggal pada 4 April 2023. Beliau merupakan pendiri Rumah Sakit Mitra Keluarga yang pertama kali didirikan pada tahun 1989. .

Pria yang akrab disapa Dr Bohan ini juga mengendalikan PT Mitra Keluarga Tbk. (MIKA) yang mengoperasikan 25 rumah sakit. Selain itu, pria bergelar doktor bidang farmakologi ini juga merupakan pendiri perusahaan farmasi PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) pada tahun 1966 bersama lima saudara laki-lakinya.

Dr Boen menduduki peringkat ke-8 orang terkaya di Indonesia dalam daftar Forbes tahun lalu. Total kekayaannya mencapai US$4,2 miliar atau setara Rp 61,2 triliun.

Eddie Kusnadi Sariatmaja

Konglomerat Eddy Kusnadi Sariatmadja ini merupakan pemilik PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) yang membawahi pengelolaan Omni Hospital, PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk. (SAMA). Rumah Sakit Omni mengoperasikan 8 rumah sakit dengan kapasitas 1454 tempat tidur, dimana 6 rumah sakit EMC dan 2 rumah sakit GRHA.

Sedangkan berdasarkan RTI Business per 30 Juni 2023, Elang Mahkota Teknologi menguasai 77,30% saham SAME, sedangkan sisanya 22,70% dimiliki publik.

Sedangkan SAME merupakan pemegang saham pengendali emiten pengelola rumah sakit lainnya, PT Kedoya Adyaraya Tbk. (RSGK), memiliki 79,84% saham.

Berdasarkan Forbes 2022, Eddie menduduki peringkat ke-19 dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia. Harta yang dimiliki Eddie mencapai US$2,4 miliar atau Rp 35,90 triliun.

Baca Juga  BI menaikkan suku bunga dasar menjadi 6%

Mokhtar Riady

Kerabat Dato’ Sri Tahir juga memiliki usaha rumah sakit. Mokhtar Riady merupakan pendiri Grup Lippo yang mencakup sejumlah perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, termasuk kesehatan.

Mokhtar menjalankan bisnis rumah sakit melalui grup Siloam yang menjadi perusahaan publik, PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) Pada awal pengembangan rumah sakit, ia bermitra dengan Gleneagles, perusahaan jaringan rumah sakit di Singapura, untuk membangun Rumah Sakit Gleneagles.

Namun setelah Gleneagles tidak melanjutkan kemitraan lagi, Mokhtar melanjutkan bisnis rumah sakit dengan mengubah nama menjadi Rumah Sakit Siloam. Hingga saat ini Rumah Sakit Siloam terus berkembang dan menyebar ke seluruh Indonesia.

Sementara itu, miliarder berusia 93 tahun ini menduduki peringkat ke-23 dalam daftar orang terkaya versi Forbes 2021 dengan kekayaan bersih US$1,7 miliar atau setara Rp 24,77 triliun.

Keluarga Raja Ning

Hungkan Suteja, putra taipan Ning King, merupakan pemilik manfaat (ultimate benefit owner) PT Kedoya Adyaraya Tbk. (RSGC). Emiten ini memiliki total 2 rumah sakit yaitu GRHA Kedoya dan GRHA MM2100.

RSGC merupakan bagian dari grup yang sama dimana emiten rumah sakit tersebut menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan saham sebesar 79,84%. Sedangkan Hungkang Sutedja tercatat sebagai pemilik 0,35% saham RSGK.

Ning King sendiri merupakan seorang taipan Indonesia yang memiliki banyak perusahaan di bidang tekstil, baja, real estate, pertambangan, energi, dan pertanian di bawah bendera Agro Manunggal. Namanya pun masuk dalam 50 orang terkaya di Indonesia tahun 2017 versi Forbes dengan kekayaan bersih US$450 juta atau setara Rp 6,5 triliun.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

9. Saham rumah sakit naik, tapi kenapa keuntungannya turun?

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *