Demikian laporan keuangan kuartal ketiga emiten Telkom Tower. Siapa juaranya?

Uncategorized174 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah emiten menara telekomunikasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan hasil keuangan hingga kuartal III 2023. Beberapa emiten menara telekomunikasi yang mengajukan lapkeu adalah emiten Grup Djarum PT Sarana Menara Nusantara (TOWR), emiten Grup Telkom PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel, dan PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT).

Namun, salah satu dari tiga emiten besar di sektor menara telekomunikasi, PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG) milik Grup Saratoga, belum mempublikasikan laporan keuangannya di situs BEI.

Direktur TBIG Helmy Yusman Santoso mengatakan laporan keuangan tersebut masih dalam pemeriksaan terbatas oleh perusahaan audit (KAP). “Pelaporan paling lambat disampaikan pada tanggal 30 November 2023,” ujarnya dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Senin (11 Juni).

Sedangkan dua emiten sektor menara lainnya yang melaporkan hasil keuangan kuartal III adalah PT Solusi Tunas Pratama (SUPR) dan PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI). Sedangkan PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON), PT Inti Bangun Sejahtera (IBST), PT LCK Global Kedaton (LCKM) dan PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk (GOLD) belum melaporkan.

Dari lima emiten menara telekomunikasi, Mitratel tetap menjadi emiten dengan pertumbuhan laba bersih tertinggi selama 9 bulan tahun ini, mengungguli kompetitornya secara signifikan.

Anak usahanya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), meraup laba bersih Rp 1,43 triliun, naik 17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Rp 1,23 triliun). Pencapaian laba bersih ini sejalan dengan pertumbuhan pendapatan Mitratel sebesar 12% dari Rp5,61 triliun menjadi Rp6,27 triliun.

Laba bersih rivalnya Sarana Menara atau TOWR justru turun 5,20% menjadi Rp 2,43 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni Rp 2,56 triliun. Pendapatan TOWR periode tersebut naik 8% menjadi Rp8,72 triliun dari sebelumnya Rp8,12 triliun.

Baca Juga  Diungkapkan! Itulah sederet raja dan dinasti debt collector di Indonesia.

Sedangkan TBIG belum mempublikasikan laporan keuangannya. menjadi Rp3,28 triliun dari Rp3,30 triliun.

Hingga akhir September 2023, emiten menara telekomunikasi lain yang juga melaporkan pertumbuhan laba adalah Solusi Tunas Pratama (STP Tower) atau SUPR naik 4% menjadi Rp 767 miliar. Per Oktober 2021, SUPR efektif diakuisisi oleh TOWR melalui anak perusahaannya PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo).

Sedangkan BALI mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 14,47% menjadi Rp 130 miliar dari sebelumnya Rp 152 miliar. CENT juga mencatatkan pemulihan kinerja terutama laba bersih dengan menurunkan rugi bersih sebesar 47% menjadi Rp726 miliar dari kerugian Rp1,36 triliun.

Dalam siaran persnya tertanggal 31 Oktober 2021, manajemen MTEL menyebutkan pertumbuhan pendapatan didorong oleh peningkatan menara dan fiber, baik organik maupun anorganik. Pertumbuhan ini dibarengi dengan peningkatan jumlah penyewa dan kolokasi (layanan di mana operator telekomunikasi menyewa menara milik perusahaan menara, bukan membangunnya sesuai pesanan).

“Sejak penawaran umum perdana (IPO) hingga saat ini, kami terus menambah jumlah menara dan fiber, khususnya di luar Pulau Jawa. Kini kami menikmati hasilnya berupa peningkatan jumlah penyewa dan peningkatan pendapatan,” kata Direktur Utama MTEL.
Theodore Ardi Hartoko atau Teddy.

Dalam 9 bulan tahun 2023, Mitratel membangun 481 menara baru dan menambah 1.192 menara melalui akuisisi, sehingga jumlah menara yang dimiliki MTEL menjadi 37.091 hingga akhir September tahun lalu.

Sebaran menara Mitratel mencakup 15.505 menara di Pulau Jawa dan 21.586 menara di luar Pulau Jawa atau sekitar 58% dari total jumlah menara. Hal ini berkontribusi terhadap pertumbuhan tambahan penyewa di luar Pulau Jawa sebesar 11%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan di Pulau Jawa sebesar 10%.

Baca Juga  IHSG kembali ke zona merah, 5 saham berkapitalisasi besar terpuruk

Peningkatan pemilik menara diimbangi dengan peningkatan penghuni sebesar 10,5% menjadi 55.704 penghuni, naik dari sebelumnya 50.390 penghuni (YoY).

Sedangkan jumlah kolokasi naik 21,3% menjadi 18.613 dibandingkan sebelumnya 15.339 kolokasi (YoY). Pada tahun ini, Mitratel juga berhasil memperluas jalur serat optiknya hingga 29.042 km. “Hal ini menunjukkan bahwa strategi kami untuk memperluas dan mengoptimalkan pertumbuhan di luar Pulau Jawa sejalan dengan strategi ekspansi operator seluler di Indonesia,” ujarnya.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Laba HM Sampoerna (HMSP) naik 18,69% menjadi Rp 3,04 triliun

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *