Dolar AS Ditutup ke Rp 16.200, Ekonom Sebut Kondisi Terburuk

Uncategorized32 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Dolar AS melewati angka 16.000 rupiah. Ini adalah pertama kalinya sejak tahun 2020.

Rupiah dibuka melemah 1,33% menjadi Rp16.050 per dolar AS, menurut data Refinitiv. Rupee melemah seiring indeks dolar AS melonjak dalam empat perdagangan terakhir hingga mencapai posisi 106,205 pada Senin (15/04/024).

Melemahnya nilai tukar rupee terhadap dolar AS tidak lepas dari faktor eksternal dan internal. Komentator perbankan dan pakar sistem pembayaran Arianto Muditomo mengatakan pelemahan tersebut disebabkan kombinasi faktor geopolitik dan domestik.

“Kebijakan moneter AS, perlambatan ekonomi di China, dan ketidakpastian dalam negeri juga memperburuk situasi,” ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Selasa (16/4/2024).

Arianto kemudian menjelaskan, ada berbagai katalis negatif yang mendasari tren pelemahan rupee ini, antara lain kenaikan suku bunga The Fed, perlambatan ekonomi global, dan ketidakpastian dalam negeri.

Namun, ada juga katalis positif. Antara lain, kenaikan harga komoditas ekspor utama Indonesia (minyak bumi, batu bara, CPO), potensi masuknya modal asing, dan intervensi pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

“Dalam jangka pendek hingga menengah, jika perebutan kekuasaan ini dimenangkan oleh katalis negatif, maka bisa membawa rupee ke level terburuknya di Rp 16.300-16.500,” tutup Arianto.

Senada, Direktur Eksekutif Segar Institute Peter Abdullah menilai dampak pelemahan rupiah secara keseluruhan sangat bergantung pada respon kebijakan yang diambil otoritas dan pemerintah Indonesia.

Sementara terkait dampak pelemahan rupiah, menurutnya akan berdampak pada ekspor dan impor Indonesia. Peter mengatakan pelemahan rupee akan menyebabkan kenaikan harga barang impor.

“Terjadi inflasi impor. Inflasi barang impor. Pertumbuhan impor akan dibatasi,” jelasnya saat diwawancara CNBC Indonesia, Selasa (16/4/2024).

Baca Juga  LPS menyiapkan pembayaran keenam simpanan nasabah BPR tahun ini

Di sisi ekspor, melemahnya nilai tukar rupiah akan menyebabkan turunnya harga barang-barang Indonesia di pasar dunia. Pertumbuhan ekspor akan meningkat. Selain itu, harga minyak diperkirakan akan meningkat.

Ia menambahkan, pertumbuhan ekspor juga akan terjadi pada batu bara dan CPO. “Peningkatan ekspor dan penurunan impor akan menyebabkan surplus perdagangan,” kata Peter.

Terkait arus modal, tambahnya, pelemahan rupee meningkatkan risiko nilai tukar mata uang asing. Menurut Peter, investor asing akan menahan investasinya di Indonesia.

“Atau bahkan dorongan pelarian modal kalau mereka yakin rupee akan terus melemah,” ujarnya.

Sementara itu, dosen senior Lembaga Perbankan Pembangunan Indonesia (LPPI) Mok Amin Nurdin menilai jika sentimen negatif terus berlanjut, dolar bisa mencapai Rp 18.000.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Video: Terus Menunda-nunda, Bagaimana dengan Fundamental Rupee?

(mx/mx)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *