Dua saham Grup Kresna milik Michael Stephen menjadi perhatian bursa. Mengapa?

Uncategorized59 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan dua saham emiten Grup Kresna telah diawasi sejak 13 Maret 2024. Diantaranya adalah saham PT M Cash Integration Tbk. (MCAS) dan PT NFC Indonesia Tbk. (NFCS).

Kedua saham ini diwaspadai karena sama-sama mengalami penurunan harga yang tidak biasa atau aktivitas pasar yang tidak biasa (UMA). MCAS yang bergerak di sektor jasa teknologi informasi terakhir berada di zona merah dengan harga 1.830 per saham pada 13 Maret 2023.

Menurut RTI Business, saham MCAS terkoreksi 28,95% selama sepekan terakhir. Bahkan, saham Grup Kresna anjlok 73,86% dalam enam bulan terakhir.

Sementara itu, saham NFCX yang dikuasai MCAS terakhir ditutup di zona merah di level 1.900 per saham. Menurut RTI Business, saham emiten digital itu anjlok 15,93% selama sepekan terakhir. Sedangkan NFCX mencatatkan koreksi sebesar 69,84% selama enam bulan terakhir.

Pernyataan UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal, jelas BEI dalam keterangannya yang dikutip, Kamis (14/3/2024).

Pihak bursa kemudian meminta investor mencermati respon MCAS dan NFCX terhadap konfirmasi bursa, mencermati kinerja perseroan, mempertimbangkan berbagai aksi korporasi, dan mempertimbangkan berbagai peluang yang mungkin timbul.

Tepat enam bulan lalu, tepatnya 13 September 2023, Ketua Grup Kresna Michael Stephen ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri. Michael dan tiga tersangka lainnya terjerat kasus tidak dibayarnya klien penyimpan dana di PT Pusaka Utama Persada dan PT Makmur Sejahtera Lestari. Kedua perusahaan tersebut digunakan untuk memperoleh dana dari klien korban berupa perjanjian jual beli saham dengan PT Kresna Sekuritas.

Baca Juga  Belum semua BUMN beralih ke IKN

Dalam kasus ini, para tersangka dijerat Pasal 103 juncto Pasal 30 UU Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 dan/atau Pasal 378 KUHP dan/atau Pasal 372 KUHP dan Pasal 3,4, 5. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU.

Selain itu, Michael juga berada di belakang PT Asuransi Jiwa Kresna (Kresna Life), perusahaan asuransi yang mengalami gagal bayar hingga Rp 6,4 triliun dari sekitar 8.900 pemegang polis.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel berikutnya

Harga saham melonjak 47% dalam sepekan, BEI terus mencermati saham ITMA

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *