IHSG Hijau Meski AS menyampaikan kabar buruk, saham perbankan tetap berpesta

Uncategorized317 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat pada sesi pertama perdagangan Jumat (1 Desember 2023), meski sentimen pasar global hari ini cenderung negatif.

Hingga pukul 09:33 WIB, saham IHSG menguat 0,42% di 7.250.227. IHSG masih berada di level psikologis 7200 menjelang sesi I hari ini.

Nilai perdagangan indeks pada sesi pertama perdagangan hari ini mencapai sekitar Rp 2 triliun, termasuk 4 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 322.431 kali. Sebanyak 190 saham menguat, 242 saham melemah, dan 225 saham stagnan.

Dari sisi industri, penggerak IHSG pada sesi hari ini adalah sektor material dan industri masing-masing sebesar 0,4%.

Selain itu, beberapa saham juga mendukung (penggerak) IHSG pada pertemuan I hari ini. Di bawah ini adalah promosinya penggerak IHSG.












Penerbit Kode stok Indeks poin Harga terakhir Perubahan harga
Bank Mandiri (persero) BMRI 13.82 6650 3,10%
Energi Terbarukan Barito BREN 8.82 5.125 1,49%
Bank Rakyat Indonesia (Persero) BBRI 8.81 5800 0,87%
Bank Asia Tengah BBCA 5.17 9.650 0,78%
Barito Pasifik BRPT 1.96 1065 0,47%
Bank Negara Indonesia (Persero) BBNI 1.83 5.625 0,45%
Telkom Indonesia (persero) TLKM 1.17 4000 0,25%
Astra Internasional ASII 1.13 5600 0,90%

Sumber: Refinitif dan RTI

Saham bank raksasa atau empat besar memberikan dukungan bagi IHSG pada sesi I hari ini, dengan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi peraih keuntungan terbesar dengan meraih 13,8 poin indeks.

Selain BMRI, ada juga PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). penggerak IHSG berada pada 8,8 poin indeks, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 5,2 poin indeks, dan terakhir PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 1,8 poin indeks.

Tak hanya itu, dua promosi Prajogo Pangestu juga kembali hadir. penggerak IHSG. Ketiga saham Prajogo tersebut adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

IHSG menguat meski ada kabar kurang menggembirakan dari China dan Amerika Serikat (AS). Dari China, deflasi sebenarnya mulai membaik pada bulan Desember 2023, dengan deflasi hanya sebesar 0,3% year on year (tahun demi tahun/y/y), dibandingkan sebelumnya deflasi sebesar 0,5% pada November 2023.

Namun China masih akan mengalami deflasi hingga akhir tahun 2023. Hal ini juga mengganggu prospek perdagangan ekspor-impor. Impor Tiongkok bulan Desember 2023, yang akan dirilis hari ini, juga akan turun -0,5% tahun ke tahun, menurut penyusun data. Ekonomi perdagangan.

Di sisi lain, ekspor Tiongkok pada bulan Desember 2023 diperkirakan meningkat sekitar 0,9% year-on-year, dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 0,5%.

Dengan demikian, neraca perdagangan Tiongkok pada akhir tahun 2023 diperkirakan membaik atau meningkat menjadi US$76 miliar dari November 2023 sebesar US$68,39 miliar.

Tiongkok adalah penggerak utama perekonomian Asia, mitra dagang terbesar Indonesia dan salah satu investor asing terbesar di Indonesia. Lesunya perekonomian Tiongkok tentu menjadi kabar buruk bagi Indonesia.

Selain Tiongkok, kabar kurang menggembirakan datang dari AS, dimana inflasi konsumen (Indeks Harga Konsumen/CPI) periode Desember 2023 kembali memanas yakni tumbuh menjadi 3,4% (YoY) dari sebelumnya 3,1% pada November 2023, menurut Biro Statistik AS.

Angka tersebut tentu lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar dalam negeri. Ekonomi perdagangan Indeks Harga Konsumen AS diperkirakan naik 3,2% (YoY) pada Desember 2023.

Sementara itu, inflasi inti AS pada bulan Desember 2023 kemungkinan akan sedikit menurun menjadi 3,9% (secara tahunan) dari sebelumnya sebesar 4% pada bulan November 2023. Indeks harga konsumen inti juga berada di atas ekspektasi pasar (3,8%).

Kenaikan indeks harga konsumen AS disebabkan oleh musiman Natal dan Tahun Baru. Selain itu, eskalasi konflik di Timur Tengah yang juga berujung pada naiknya harga minyak mentah global juga turut berkontribusi terhadap kenaikan inflasi Negeri Paman Sam pada akhir tahun 2023.

Meningkatnya inflasi di AS berarti ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga acuan bank sentral AS (Federal Reserve/Fed) mungkin memudar. Namun kenyataannya, ekspektasi tersebut meningkat.

Menurut alat FedWatch CME, kemungkinan The Fed akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) telah meningkat menjadi 71,8%, lebih tinggi dari probabilitas Rabu lalu sebesar 66,1%, namun masih lebih rendah dari probabilitas 79%. minggu lalu.

RISET CNBC INDONESIA

[email protected]

Penolakan tanggung jawab: Artikel ini merupakan produk jurnalistik berdasarkan pandangan Riset CNBC Indonesia. Analisis ini tidak dimaksudkan untuk mendorong pembaca membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada di tangan pembaca dan kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian atau keuntungan yang timbul akibat keputusan ini.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Jumlah IHSG sudah mencapai 7000! BBRI, GOTO dan BREN menjadi pendukung utama.

(bhd/bhd)


Quoted From Many Source

Baca Juga  Kalbe Farma (KLBF) akan membeli kembali 625 juta saham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *