Inilah daftar 5 raja industri pertambangan batu bara Indonesia.

Uncategorized148 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batubara acuan global turun pada minggu ini karena proyeksi penurunan permintaan batubara dan semakin meluasnya peralihan ke sumber energi baru terbarukan (EBT) memberikan tekanan pada harga batubara global.

Harga batu bara kontrak Newcastle kontrak Februari 2024 turun 2,49% secara per basis (ptp), melemah selama lima minggu, sehingga menjadi lima minggu berturut-turut batu bara terkoreksi.

Sementara itu, sejumlah konglomerat Indonesia termasuk yang terkaya di dunia berkat bisnis batu baranya. Berikut raja pertambangan Indonesia yang dirangkum CNBC Indonesia:

Pendek, cocok untuk Kwong

Dato Low Tak adalah seorang pengusaha Indonesia dan pemilik PT Bayan Resources Tbk (BYAN), sebuah perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan batu bara. BYAN merupakan emiten batu bara dengan kapitalisasi terbesar di bursa dalam negeri. Tercatat kapitalisasi pasarnya saat ini mencapai Rp 658,33 triliun.

Mengutip daftar 50 orang terkaya Forbes per Senin (15/1/2024), Low Tak Kwong memiliki kekayaan US$27,2 miliar atau setara Rp 422,79 triliun. Ia dianggap sebagai orang terkaya ketiga di Indonesia setelah keluarga Hartono dan Prajogo Pangestu.

Keluarga Wijaya

Keluarga yang dikepalai mendiang Eka Tjipta Widjaja ini menguasai Grup Sinar Mas, salah satu konglomerat di masa Orde Baru. Grup Sinar Mas memiliki PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) yang bergerak di sektor energi dan infrastruktur.

Anak perusahaan DSSA, PT Golden Energy Mines Tbk. (PERMATA) dan Golden Energy and Resources Ltd. (GEAR) merupakan pemasok batubara. GEAR tidak hanya memiliki tambang di Indonesia, tetapi juga mengakuisisi aset pertambangan di Australia yaitu Stanmore Coal. Putra Eka, Frankie Osman Wijaya, menjadi Komisaris Utama DSSA.

Baca Juga  Ikuti pergerakan tiga saham yang berpotensi menghasilkan keuntungan hari ini

Kekayaan keluarga Vijaja mencapai US$10,8 miliar atau setara Rp 168,3 triliun.

Garibaldi Thohir

Kakak Menteri BUMN Eric Thohir bersama TP Rachmat dan Edwin Soeryajaya mendirikan emiten raksasa PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang berhasil mengamankan pendanaan IPO terbesar sepanjang sejarah saat pertama kali tercatat di bursa pada 2008. yang rekornya baru-baru ini dipecahkan oleh Bukalapak.

Operasi penambangan Adaro berlokasi di Pulau Sumatera dan Kalimantan, serta terdapat juga operasi penambangan di Australia yang baru diakuisisi pada tahun 2018. Beberapa perusahaan pertambangan yang berada di bawah Grup Adaro antara lain PT Mustika Indah Permai (MIP), PT Bukit Enim Energi (BEE), Adaro Metcoal Companies (AMC), PT Bhakti Energi Persada (BEP) dan masih banyak lainnya.

Di penghujung tahun 2022, Forbes menempatkan pria yang akrab disapa Boy itu di urutan ke-15 dalam daftar 50 orang terkaya Indonesia dengan kekayaan bersih US$3,45 miliar atau setara Rp 54,01 triliun. Kemudian pada tahun 2023, kekayaannya mencapai US$3,3 miliar atau Rp 51,29 triliun sehingga menjadikannya orang terkaya ke-17.

Kiki Barky

Kiki Barki merupakan pendiri perusahaan pertambangan batu bara PT Harum Energy Tbk (HRUM) pada tahun 1995, dan perusahaannya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2010. Kiki Barki menguasai 79,79% saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang didirikan sejak 1995.

Selain Harum Energy, Kiki juga memiliki tambang batu bara Tanito Harum milik swasta. Saat ini, putra sulungnya Lawrence Barkey memimpin Haruma sebagai Komisaris Presiden, sedangkan putra bungsunya Stephen Scott Barkey menjabat sebagai Komisaris.

Pada tahun 2022, Forbes memperkirakan kekayaan bersih Kiki mencapai US$1,9 miliar atau Rp29,6 triliun. Tahun lalu, kekayaan bersihnya mencapai US$1,41 miliar atau Rp 21,92 triliun, menjadikannya orang terkaya ke-33.

Baca Juga  Selebgram Winda Yuliyanti Istikhozah Gunakan Media Sosial Untuk Bagikan Hal Positif Sekaligus Mengais Rezeki

Edwin Soeryajaya

Tjia Han Poon alias Edwin Soeryajaya lahir pada 17 Juli 1949 setelah orang tuanya pulang dari Belanda. Ketika ia lahir, Perang Indonesia-Belanda berangsur-angsur mereda. Saat itu, ayahnya William Soeryajaya masih merintis usaha sendiri, membangun Astra.

Sekitar tahun 1997–1998, Edwin bersama Sandiaga Uno mendirikan perusahaan keuangan Saratoga Investama Sedaya. Dimana ia menjadi eksekutif puncak perusahaan setelah Indonesia dilanda krisis mata uang. Saratoga merupakan salah satu perusahaan keuangan yang kemudian berkembang.

Setelah tahun 2000, pertambangan batu bara di Indonesia semakin meluas. Edwin Soeryajaya juga baru saja memasuki bisnis tersebut. Seperti sepupunya yang juga bekerja di Astra, Theodore Permadi Rahmat alias Teddy Rahmat, turut mendirikan perusahaan batu bara Pama Persada.

Pada tahun 2022, Forbes memperkirakan kekayaan bersih Edwin mencapai US$1,8 miliar atau Rp28,05 triliun. Kemudian pada tahun 2023, Edwin menduduki peringkat ke-39 orang terkaya dengan kekayaan US$1,24 miliar atau setara Rp 19,27 triliun.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel berikutnya

Karena berhutang, pengusaha ini menjadi sangat kaya

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *