Kejanggalan dan Konspirasi Jahat Pembelian Emas Antam Rp 3,5 Triliun Budi Said

Uncategorized297 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Eksi Anggreeni merupakan tokoh sentral dalam kasus pembelian ribuan kilogram emas oleh Budi Said dari PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Pasalnya, dialah yang menawarkan diskon pembelian emas yang akhirnya menimbulkan masalah.

Terkait putusan PN Surabaya, perselisihan bermula saat Budi Said mendapat informasi ada emas yang dijual dengan harga diskon di Butik Emas Antam Surabaya atau BELM Surabaya 01 Antam.

Kemudian pada 19 Maret 2018, Budi Said mendatangi kantor BELM Surabaya 01 Antam untuk mengonfirmasi informasi tersebut. Saat itu, Budi Said bertemu dengan Eksi yang mengaku bekerja di bagian pemasaran PT Antam. Belakangan terungkap, Exy bukanlah pegawai atau tenaga pemasaran di PT Antam, melainkan seorang broker atau broker.

Turut hadir dalam pertemuan di kantor BELM Surabaya 01 Antam tersebut Endang Kumoro selaku pimpinan BELM Surabaya 01 Antam dan Misdianto selaku staf administrasi BELM Surabaya 01 Antam.

Budi Said kemudian mendapat penjelasan dari Exy tentang cara membeli emas dengan harga diskon. Eksi kemudian menawarkan emas batangan kepada Budi Said dengan harga Rp 530 juta per kilogram. Penerimaan barang terjadi 12 hari kerja setelah Antam menerima uang.

Usai pertemuan, Eksi menawarkan diri menjadi agen pembeli Budi Said. Pasalnya, Budi Said tidak kesulitan dalam mengelola pengadaan. Atas tawarannya, Eksi meminta komisi sebesar Rp10 juta per kilogram emas yang dibeli Budi Said.

Budi Said mulai tertarik dengan usulan tersebut. Apalagi Exy meyakinkan Budi Said dengan mengaku sudah memiliki 14 pembeli (sponsor).

Budi Said kemudian melakukan sejumlah transaksi melalui Exy. Total, Budi Said melakukan 73 transaksi pembelian emas melalui Exi. Dengan harga beli antara Rp505 juta hingga Rp525 juta per kilogram, itu termasuk harga diskon.

Uang yang dikeluarkan Budi Said sebesar Rp 3.593.672.055.000 (Rp 3,5 triliun). Budi Said sesuai kesepakatan akan menerima emas seberat 7.071 kilogram (7 ton). Namun yang diterimanya hanya 5.935 kilogram (5,9 ton).

Jadi defisitnya 1.136 kilogram (1,1 ton). Tidak sesuai dengan tagihan yang diterimanya. Budi Said kemudian menduga dirinya adalah korban penipuan. Dia kemudian melaporkan kejadian tersebut ke polisi pada 20 Januari 2019.

Kasus ini dibawa ke pengadilan, dan persidangan dimulai pada September 2019. Hakim memutuskan Exy bersalah. Dalam alasannya, hakim menilai Exy telah melakukan penipuan.

“Fakta yang tertuang dalam putusan hakim salah satunya adalah Budi Said tertarik membeli emas karena pengakuan Exy sebagai tenaga pemasaran PT Antam. Pernyataan Exy Budi Saidu soal penurunan harga Rp 530 juta per kilogram juga dibenarkan Endang Kumoro. selaku pimpinan BELM Surabaya 01 Antam,” kata Fernandes Raja Saor, kuasa hukum PT Aneka Tambang Tbk, CNBC Indonesia, dikutip Minggu (1/7/2024).

Padahal sebenarnya Tergugat adalah seorang pengusaha dan bukan ahli pemasaran di PT Antam, demikian bunyi putusan kasasi Nomor 600/K/Pid/2020.
Atas perbuatannya, Eksi divonis 3 tahun 10 bulan penjara. Gugatan banding dan kasasi yang diajukannya ditolak. Atas perbuatannya, ia divonis bersama tiga mantan petinggi Antam, yakni Endang Kumoro 2,5 tahun penjara, Misdianto 3,5 tahun penjara, dan Ahmad Purwanto 1,5 tahun penjara.

Merujuk ke situs PN Surabaya, Exy juga kembali terjerat kasus penipuan emas. Yakni jual beli bersama Lim Melina. Dalam persidangan yang dimulai pada Oktober 2022, Exy dinyatakan bersalah. Atas perbuatannya, ia divonis 1,5 hukuman penjara.

Memasuki ranah sipil

Adapun sengketa 1,1 ton emas sudah masuk ke ranah perdata sejak Februari 2020. Budi Said mengajukan perkara tersebut ke Pengadilan Negeri Surabaya. Tersangka antara lain Antam, Endang Kumoro, Misdianto, Ahmad Purwanto, dan Eksi Anggreeni. Budi Said menanyakan nasib defisit emas sebesar 1,1 ton yang belum diterimanya.

Baca Juga  Meykarta: dulunya kota impian, kini seperti kuburan

Pada 13 Januari 2021, Pengadilan Negeri Surabaya mengabulkan gugatan Budi Said. PT Antam harus membayar Rp 817.465.600.000 atau mentransfer 1.136 emas (1,1 ton) ke Budi Said. Selain itu, Eksi juga menghukum Budi Said dengan kerugian sebesar Rp92 miliar. PT Antam dan Eksi juga diperintahkan membayar ganti rugi tak berwujud sebesar Rp 500 miliar kepada Budi Said.

Namun pada 19 Agustus 2021, Pengadilan Tinggi Surabaya membatalkan putusan pengadilan negeri tersebut. Antam dilarang membayar Budi Said. Namun MA mengabulkan permohonan banding Budi Said.

Antam bersama Endang Kumoro, Misdianto, dan Ahmad Purwanto dijatuhi hukuman secara tanggung renteng mentransfer emas seberat 1.136 kilogram kepada Budi Said. Jika tidak, uang tersebut akan digantikan dengan harga emas pada saat pelaksanaan keputusan. Selain itu, Exy juga diperintahkan membayar ganti rugi sebesar Rp 92 miliar kepada Budi Said.

Dokumen pengadilan mengungkap pertimbangan Mahkamah Agung memberikan sanksi Antam membayar 1,1 ton emas kepada Budi Said.

Memang Endang Kumoro, Misdianto, Ahmad Purwanto, dan Eksi Anggreeni terbukti melakukan penipuan. Keputusan tersebut tidak menunjukkan Antam juga bersalah dan bertanggung jawab atas hilangnya 1,1 ton emas milik Budi Said.

Namun Mahkamah Agung menetapkan Endang Kumoro (CEO BELM Surabaya 01 Antam), Misdianto (Back Office BELM Surabaya 01 Antam) dan Ahmad Purwanto (Direktur Senior Produksi dan Jasa Perdagangan Antam) merupakan karyawan Antam.

“Dia adalah pegawai/bawahan Tergugat Konvensi I yang melakukan perbuatan tersebut sebagai bagian dari kegiatan pokok dan wewenangnya untuk membeli dan menjual emas di bawah penguasaan dan pengawasan Tergugat Konvensi I,” kata Mahkamah Agung. pertimbangan.

MA juga menyebut perbuatan Endang Kumoro dkk bukan merupakan perbuatan pribadi. Sebab, kesepakatan yang berujung gugatan Budi Said baru-baru ini diselesaikan di kantor BELM Surabaya 01 Antam.

“Pada hari dan jam kerja dilakukan dengan pegawai Antam, salah satunya Tergugat II Konvensi selaku pimpinan BELM Surabaya 01 PT Antam Tbk., dan dalam transaksi tersebut digunakan rekening PT Antam, sehingga tindakan tersebut Tergugat Konvensi II IV secara melawan hukum melakukan penipuan, “secara bersama-sama merugikan penggugat Konvensi,” kata Mahkamah Agung dalam keputusannya.

“Dengan demikian, berdasarkan ketentuan Pasal 1367 KUH Perdata, Tergugat I Konvensi yang mempekerjakan Tergugat II-IV sebagai pekerja, harus bertanggung jawab atas kerugian yang timbul karena kesalahan pekerja tersebut” masih dalam proses. Mahkamah Agung.

Uji materi yang diajukan PT Antam ditolak Mahkamah Agung pada 21 Juni 2023. Antam saat ini mengirimkan PC untuk kedua kalinya. Alasan Antam mengajukan PK untuk kedua kalinya adalah karena dari berbagai kasus yang juga melibatkan Anggraeni Exi dan bentuk transaksinya serupa, hanya kasus Budi Said yang terpenuhi. Kasus-kasus lain tidak puas.

Tuduhan meningkatnya korupsi

Kontroversi emas ini juga masuk ke ranah korupsi. Eksi dan tiga mantan petinggi Antam yang terlibat kasus penipuan telah dijerat kasus korupsi. Sidang kasus ini akan dimulai pada Agustus 2023.

Mereka didakwa melakukan korupsi yang merugikan negara dalam jual beli emas Antam. Dalam dakwaan disebutkan Exy dan Endang Kumoro serta lainnya melakukan empat perbuatan:

– Membantu Exsi Anggraeni menjual emas Antam BELM Surabaya 01 dengan harga lebih murah dari harga resmi.
– Membantu Anggraeni Eksi dalam pengiriman emas diatas invoice. Hal ini mengakibatkan kekurangan emas Antam seberat 152,80 kg di BELM Surabaya 01 untuk Exy guna memenuhi kesepakatan dengan pembelinya.
– Manipulasi laporan harian stok emas Antam di BELM Surabaya 01 Antam. Seolah tidak ada kekurangan cadangan emas.
– Menerima uang atau barang dari Exi Anggreeni sebagai imbalannya memudahkan penjualan emas dengan harga di bawah harga resmi dan memberikan emas melebihi invoice untuk pembayaran.
– Sejak pertama kali menjabat pada tahun 2018, Endang Kumoro selaku Kepala BELM Surabaya 01 Antam berkenalan dengan Eksi Anggreeni sebagai broker.

Baca Juga  Pasar AS Optimis Tahan Suku Bunga, Pihak Bitcoin Cs

“Dalam menjual emas, Endang Kumoro melakukannya melalui Exi Anggreeni. Entah dia menggunakan namanya atau nama orang lain,” jelas Fernandez.

Mekanismenya, Exy melakukan pembayaran sesuai nama pembeli lain yang tertera di invoice. Dia kemudian menerima emas tersebut berdasarkan permintaan dengan nama yang tercantum di faktur. Salah satu pelanggan Exi adalah Budi Said.

Exy dan Endang Kumoro serta lainnya diduga bersekongkol melakukan penipuan tagihan. Setiap kali terjadi transaksi, emasnya melebihi nilai akun. Akibatnya terjadi perbedaan pengiriman emas ke Exi.

Akibatnya, akumulasi transaksi BELM Surabaya 01 pada September hingga Desember 2018 mengakibatkan kekurangan emas Antam hingga 152,80 kg. Endang Kumoro dkk diduga memanipulasi laporan tersebut untuk menyembunyikan kekurangan cadangan emas. Harga 152,80 kilogram sekitar Rp 92.257.257.820 (Rp 92,2 miliar).

“Untuk kerugian finansial pemerintah bagi PT Antam Tbk. mengakibatkan kekurangan fisik emas Antam di BELM Surabaya 01 sebanyak 152,80 kg atau senilai Rp92.257.257.820,” bunyi putusan Pengadilan Negeri Surabaya.

Akibat persekongkolan tersebut, Eksi Anggreeni mendapat keuntungan sebesar Rp 87.067.007.820 (Rp 87 miliar). Serta pengayaan terhadap tiga terdakwa lainnya, yaitu:

Endang Kumoro:

– Mobil Toyota Innova senilai Rp 300 juta.

– Umrah dan uang saku Rp 60 juta.

– Emas 50 gram harganya Rp 30.250.000.

Midianto:

– Mobil Innova senilai Rp 300 juta.

– Tunai: Rp 4 miliar.

Ahmad Purwanto:

– Rp 500 juta

Dalam hal ini nama Budi Said juga sering disebut-sebut. Pasalnya, Budi Said menjadi satu-satunya sponsor yang disebutkan dalam laporan pemeriksaan BOD RI, sehingga Budi Said diduga menerima emas tanpa invoice dari Antam.

Selain itu, Eksi Anggreeni juga mengakui bahwa Budi Said memerintahkan Eksi untuk membagikan uang, emas, mobil, dan umru kepada mantan pegawai ANTAM untuk meluncurkan “diskon emas”.

Eksi Anggreeni, Endang Kumoro, Ahmad Purwanto, dan Misdianto dinyatakan bersalah oleh hakim dalam persidangan terpisah. Inilah putusannya:

Pameran di Angreeni:

– 7 tahun penjara

– Denda Rp 600 juta.

– Uang pengganti : Rp 87.067.007.820 (Rp 87 miliar)

Endang Kumoro:

– 6,5 tahun penjara

– Denda Rp 300 juta.

– Uang Pengganti : Rp 105.250.000.

Ahmad Purwanto:

– 6,5 tahun penjara

– Denda Rp 300 juta.

– Uang Pengganti : Rp 200.000.000.

Midianto:

– 6,5 tahun penjara

– Denda Rp 300 juta.

– Uang Pengganti : Rp 3.074.000.000.

Nasib 1,1 Ton Emas, Siapa Penggantinya?

Sementara perselisihan Antam dengan Budi Said, persoalan pembayaran emas sebanyak 1,1 ton masih berlanjut. Mengenai siapa yang harus membayarnya.

Antam juga tengah mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada 17 Oktober 2023 atas praktik ilegal. Terdakwa berjumlah 5 orang yaitu Budi Said, Eksi Anggreeni, Endang Kumoro, Misdianto dan Ahmad Purwanto.

Sementara itu, pada 30 November 2023, Budi Said mengajukan Gugatan Penundaan Eksekusi Kewajiban (PCPU) terhadap Antam di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Sidang masih berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Timur dan Jakarta Pusat.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Usai kalah dalam gugatan 1,1 ton emas, Antam akan membayarnya

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *