Kisah jatuhnya raja retail Indonesia yang “menyerah” kepada keluarga Riady

Uncategorized23 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Siapa yang tak kenal dengan toko pakaian legendaris Matahari Department Store. Raksasa ritel ini pernah ada pada masanya. Namun, tahukah Anda siapa dalang di balik Matahari?

Matahari awalnya merupakan toko pakaian bernama “Mickey Mouse” di Pasar Bahru yang didirikan oleh Hari Darmawan pada tahun 1960. Toko Mickey Mouse menjual pakaian impor dan merek pabrik sendiri yang diproduksi oleh istri Hari dengan merek MM Fashion.

Faktanya, Mickey Mouse berhasil dengan baik selama lima tahun pertama. Mereka punya pasarnya sendiri. Namun, Hari iri dengan toko terdekat bernama De Zion. Karena toko ini selalu ramai dan dikunjungi orang kaya. Upaya untuk meniru kesuksesan De Sion selalu dilakukan, namun tidak membuahkan hasil.

Hingga akhirnya keinginan untuk membeli toko muncul kembali pada tahun 1968. Tersiar kabar bahwa pemilik De Zion ingin menjual tokonya. Hari segera bergegas membelinya.

Mengutip Christine Sama dan Sigita Triono dalam Filosofi Bisnis Matahari (2017), Hari yang mengambil pinjaman US$200 juta dari Citibank berhasil mengakuisisi dua gerai De Zion di Jakarta dan Bogor. “De Sion” segera berganti nama menjadi “San”.

“De Zion artinya Matahari dalam bahasa Belanda,” kata Hari Darmawan mengutip Muhammad Maruf dalam buku 50 Ide Bisnis Hebat dari Indonesia (2010).

Untuk mengembangkan toko barunya, Hari meniru toko ritel Jepang Sogo Department Store. Ia ingin Matahari seperti Sogo yang menjual pakaian sebanyak-banyaknya agar konsumen bisa memilih barang terbaik dan termurah. Alhasil, dengan meniru strategi Sougo, Matahari pun mendapat banyak pengunjung. Matahari kemudian berkembang pesat sepanjang tahun 1970an dan 1980an.

Baca Juga  Jaga Stabilitas Rupee: Amunisi BI Tak Efektif?

Gerai ini tidak hanya menjual pakaian, tetapi juga perhiasan, tas, sepatu, kosmetik, elektronik, mainan, alat tulis, buku dan masih banyak lagi. Perkembangan pesat ini memungkinkan Hari membuka gerai lain di luar kota pada tahun 1990-an.

Hampir seluruh kota di Indonesia mempunyai sinar matahari. Tidak ada orang yang tidak mengenal Matahari. Bahkan, saking suksesnya Matahari, ia cukup percaya diri untuk mencatatkan sahamnya di bursa. Pada tahun 1989, department store PT Matahari Tbk resmi menjual sahamnya kepada publik dengan simbol emiten LPPF.

Meski begitu, kehebatan Matahari tak membuat Hari tenang. Meski sudah menjadi raja, ia ingin menjadikan Matahari sebagai pusat ritel penting di Indonesia. Ambisinya besar: mendirikan 1000 gerai Matahari.

Pada saat yang sama, keinginan tersebut juga didengar oleh James Riady, seorang bankir muda sekaligus putra pendiri konglomerat Grup Lippo, Mokhtar Riady. James berniat memberikan pinjaman kepada Hari sebesar Rp 1,6 triliun. Hari menyetujuinya dan menerima pinjaman sebesar itu dengan bunga rendah. Namun di sinilah letak permasalahannya, dan Hari tidak menduganya.

Melanjutkan kutipan “50 Ide Bisnis Hebat dari Indonesia” (2010), setelah melunasi pinjaman, James Riady berniat terjun ke bisnis ritel juga. Bahkan, ia memboyong brand retail ternama asal AS yakni WalMart ke Indonesia. Menariknya, WalMart didirikan tepat sebelum Matahari. Jadi kalau ada Matahari, pasti ada WalMart. Situasinya mirip dengan Indomaret dan Alfamart yang selalu bersebelahan.

Kemunculan WalMart jelas menjadi tanda bahaya persaingan bisnis Matahari. Meski demikian, Hari tetap tidak mau kalah dengan pesaing dan krediturnya. Ia tetap fokus mengendalikan Matahari. Namun nyatanya, WalMart kalah dalam persaingan, dan Matahari tetap menjadi raja.

Namun, pada tahun 1996, kabar mengejutkan datang. Hari dan Matahari yang sedang berada di masa jayanya tiba-tiba mendapat tawaran dari James untuk membeli Matahari. Artinya, Matahari yang memiliki omzet Rp 2 triliun kini resmi menjadi Grup Lippo.

Baca Juga  Apakah saham-saham konsumen mulai menguat karena terkejut dengan kemenangan Prabowo dalam quick count?

Penjualan tersebut memicu spekulasi liar. Karena banyak yang kaget, karena Matahari saat itu sangat sukses dan makmur. Hari tidak bisa bangkrut, karena Matahari pasti akan terbit.

Sejak akuisisi tersebut, Matahari resmi menjadi milik Grup Lippo. Nama Hari Darmawan lambat laun mulai hilang.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Meykarta: dulunya kota impian, kini seperti kuburan

(menetas/menetas)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *