Kisah raja rokok Indonesia yang berganti nama perusahaan karena Mimpi

Uncategorized358 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Bentoel menjadi salah satu dari tiga pemain besar industri rokok Indonesia pada tahun 1970-an. Perusahaan yang berbasis di Malang ini didirikan dengan nama PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel.

Untuk meraih kesuksesan tentunya Bentoel telah menempuh perjalanan panjang. Konon salah satu kuncinya berasal dari mimpi sang pendiri.

Pendiri Bentoel Ong Hock Liong lahir di desa Karang Pakar, Bojonegoro pada tanggal 12 Agustus 1893. Sejak tahun 1930-an, Ong Hock Liong dan Thoa Sioe Bian mendirikan pabrik rokok di Malang.

“Perusahaan itu awalnya bernama Strootjes-Fabriek Ong Hok Liong. Namanya kemudian diubah menjadi Hien An Kongsie,” tulis Rudy Badil dalam Kretek Jawa: An Intercultural Way of Life (2011:107).

Pabrik tersebut awalnya memproduksi rokok tjap Burung, tjap Klabang, dan Djeroek Manis. Barulah pada tahun 1954 perusahaan ini berganti nama menjadi PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel.

Pasca pergantian nama, bisnis rokok Ong Hock Liong dikabarkan berkembang pesat. Pada awal tahun 1960-an, jumlah karyawannya mencapai 3.000 orang.

Bentoel tidak segan-segan melakukan promosi. Iklan tersebut berbunyi: Benar Anda sedang merokok Bentoel. Peralihan nama menjadi Bentoel rupanya terjadi melalui proses yang unik.

Semua bermula ketika Ong Hock Liong tertidur di dekat kuburan dan melihat kentang talas dalam mimpinya saat menunaikan ibadah haji. Ketika dia terbangun, dia bertanya kepada penjaga makam tentang mimpinya.

Juru kubur mengatakan Ong Hock Liong diinstruksikan Mbah Jugo untuk mengganti nama pabriknya.

Ong Hock Liong sangat menyukai ibadah haji. George Quinn dalam Bandit Saints of Java (2019) menceritakan bahwa pada tahun 1954, Ong Hock Liong berziarah ke makam suci Mbah Jugo di sekitar Gunung Kawi.

Baca Juga  Pemerintah Jerman menjual 10.000 BTC, pasar mata uang kripto ambruk

Saat itu, merek rokok yang diproduksinya diyakini masih laku buruk. Kemudian pabrik tersebut mengganti merek rokoknya. Nama yang dipilih merupakan istilah Jawa untuk umbi talas yaitu “bentul”, yang sampai dengan Penyempurnaan Ejaan (1973) masih sering ditulis “bentoel”.

“Ketika dia (Ong Hock Liong) meninggal pada tahun 1967, dia adalah seorang multijutawan, dan Bentoel telah berkembang menjadi rokok pribumi terbesar kedua di Indonesia,” tulis George Quinn dalam “Bandit Saints of Java” (2019).

Ia kemudian digantikan oleh anak-anak Ong Hock Liong. Budhiwijaya Kusumanegara, putra pendiri, menjadi Presiden Direktur Bentoel.

Namun setelah tahun 1980an, PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel gagal membayar kembali pinjaman dari BRI dan Bank Bumi Daya sebesar US$170 juta. Utang Bentoel kepada kreditor asing kemudian bertambah menjadi US$350 juta.

Akhirnya 70% saham keluarga Ong Hock Liong terjual. Khutomo Mandala Putra tidak mampu membelinya. Bentoel kemudian dibawakan oleh Peter Sondah dan Rajawali Vira Bhakti Utama.

Pada tahun 1997, aset Bentoel dialihkan ke perusahaan baru bernama PT Bentoel Prima dan PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel dibubarkan.

Bentoel Prima berganti nama menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk pada tahun 2000. Saham perusahaan tersebut kemudian dimiliki oleh British American Tobacco sebagai pemegang saham 92,48%, dan sisanya dimiliki oleh publik.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Kisah runtuhnya kerajaan bisnis Salim setelah 3 dekade sukses

(luar biasa/luar biasa)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *