Mahkamah Konstitusi Mulai Sidang Sengketa Pilpres, Rupiah Turun ke Rp 15.850/USD

Uncategorized68 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Rupee melemah terhadap dolar AS akibat dimulainya sengketa pemilu presiden di Mahkamah Konstitusi, repatriasi dividen, dan ketidakpastian eksternal.

Laporan dari RefinitifPada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (27 Maret 2024), rupiah melemah 0,41% di Rp 15.850 per dolar AS.

Mahkamah Konstitusi (MC) hari ini menggelar sidang perdana terkait perselisihan hasil pemilu (PGPU) 2024.

Hal ini tertuang dalam Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 1 Tahun 2024 tentang Tahapan, Kegiatan dan Jadwal PHPU Tahun 2024. Keputusan tersebut ditandatangani oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Suhartoyo pada 18 Maret 2023.

“Pemeriksaan pendahuluan, verifikasi kelengkapan dan kejelasan materi permohonan, serta verifikasi dan penegasan bukti-bukti pemohon,” bunyi resolusi tersebut.

Sidang perdana sengketa pemilu presiden di Mahkamah Konstitusi bisa menjadi beban pasar karena tensi politik dalam negeri kembali meningkat.

Pada rapat perdana hari ini, dua pasangan calon presiden dan wakil presiden yakni Anies Rasyid Baswedan-Muhaymin Iskandar dan Ganjar Pranovo-Mahfud, MD membacakan tuntutannya terkait sengketa pilpres.

Kedua pasangan calon tersebut biasanya menuntut pemilihan ulang dan diskualifikasi pasangan calon nomor urut 2, Prabowo Subianto-Jibran Rakabuming Raka.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) menyebut pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini didorong oleh sentimen dari luar negeri.

Kepala Pengelolaan Moneter BI Edy Suzianto menekankan pergerakan sentimen global sangat berfluktuasi. Situasi saat ini dipicu oleh rilis data Amerika Serikat (AS) yang ternyata lebih tinggi dari ekspektasi pelaku pasar. Akibatnya, hal ini membentuk ekspektasi penurunan suku bunga dana federal dalam hal waktu dan besarannya.

Ketidakpastian global terus memberikan tekanan pada mata uang Garuda.

Baca Juga  Melahirkan Anak Ketiga Melalui Operasi Caesar, Sammy Simorangkir dan Viviane Ungkap Arti Nama Sang Bayi

Secara global, pasar menilai pesan bank sentral AS, Federal Reserve (Fed) yang cenderung damai, masih belum cukup jelas. Ketidakpastian masih ada di tengah panasnya inflasi AS dan ketegangan pasar tenaga kerja.

Selain itu, geopolitik Eropa Timur masih relatif tidak stabil. Secara khusus, serangan teroris terhadap Rusia telah menimbulkan sentimen negatif di dunia.

RISET CNBC INDONESIA

[email protected]

Meski demikian, Edi menegaskan BI selalu hadir di pasar untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan valas di pasar.

Kepala Riset Ekuitas Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro mengatakan pelemahan rupiah sebagian besar disebabkan oleh aliran uang keluar dari obligasi.

“Pelemahan sebagian besar kemungkinan disebabkan oleh arus keuangan, pasar obligasi mencatatkan jual bersih Rp 8,2 triliun pada 18-21 Maret dibandingkan dengan beli bersih Rp 1,7 triliun di pasar saham,” ujarnya Satria CNBC Indonesia.

“Untuk saat ini, BI kemungkinan akan meningkatkan intervensi valuta asing.” – kata Satria.

Menurut Satria, Ekonom Samuel Securitas Fitra Faisal mengatakan BI sebagai bank sentral sebaiknya melakukan intervensi jangka pendek agar mata uang Garuda tidak mengalami depresiasi yang signifikan.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

BI: Rupee cenderung menguat

(balapan/balapan)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *