OJK buka suara soal likuiditas perbankan

Uncategorized81 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai likuiditas perbankan Indonesia masih sangat memadai. Kepala Pengawasan Perbankan OJK Diane Ediana Ray mengatakan, pihaknya tidak melihat adanya pengetatan likuiditas perbankan.

Dia menjelaskan, hal tersebut berdampak pada seluruh indikator risiko. Khususnya, rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) dan alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang masing-masing meningkat menjadi 117,29% dan 26,36%.

Rasio pendanaan stabil bersih (NSFR) atau rasio pendanaan stabil bersih kemudian akan menjadi 135,35% pada Q3 2023. Termasuk juga rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) sebesar 84,19% per Oktober 2023.

“Secara keseluruhan baik-baik saja,” kata Dayan saat konferensi pers Rapat Bulanan Dewan Komisioner OJK, Senin (12 April 2023).

Selain itu, dia mengatakan tanda-tanda kecukupan likuiditas yang didorong oleh suku bunga dan volume transaksi juga menunjukkan kondisi normal. Tidak ada transaksi yang menunjukkan anomali, kata Dayan.

Dian mengatakan, suku bunga Bank Indonesia (BI) saat ini sebesar 6%, sama dengan sebelum pandemi. Terkait kebutuhan likuiditas perbankan, BI memiliki kebijakan promosi likuiditas makroekonomi (KLM) yang memberikan keleluasaan penggunaan GWM jika bank mencapai jumlah pinjaman tertentu sesuai pedoman yang ditentukan.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel berikutnya

OJK ingin mengatur dividen. Bank mana yang memiliki rasio dividen tinggi?

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Baca Juga  Gelar Fansign 5 Kota di Korea Selatan, U-KNOW Habiskan Waktu yang Berarti Bersama Penggemar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *