OJK melacak banyak rumah sakit penipu di RI, penggunaan asuransi yang berlebihan

Uncategorized198 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah Rumah Sakit (SDM) diketahui terlalu memanfaatkan layanan medis dan menambah beban asuransi kesehatan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun telah turun tangan mengatasi permasalahan tersebut.

Direktur Eksekutif Asuransi, Penjaminan, dan Pengawasan Dana Pensiun (PPDP) OJK Ogie Prastomijono menjelaskan, dalam pemberian layanan kesehatan dapat terjadi pemanfaatan yang berlebihan, baik dalam pemberian layanan kesehatan maupun dalam penyaluran obat.

“Saat ini, kami terus mendorong revitalisasi ekosistem jaminan kesehatan melalui Nota Kesepahaman dengan Kementerian Kesehatan, mendorong tumbuhnya kontrol yang memadai terhadap mutu pelayanan medis berdasarkan pendekatan klinis dan mutu pelayanan kefarmasian dengan efektivitas medis yang memadai,” kata Augie dalam keterangan tertulis, Rabu (21/2/2024).

Proses penilaian yang disebut Usage Review (UR) ini dilakukan secara berkala dan berkesinambungan dengan menggunakan teknologi digital untuk mempercepat proses dan menjamin kualitas data yang memadai.

Saat ini, OJK juga terus mendorong perusahaan asuransi untuk memberikan edukasi massal kepada seluruh pemegang polis dengan menggunakan informasi yang banyak tersedia di rumah sakit mitra.

“Kami mendorong aplikasi seluler dari semua perusahaan asuransi di ekosistem asuransi kesehatan untuk melakukan upaya ini kesadaran “Gaya hidup sehat dapat meningkatkan efisiensi dan memberikan nilai uang dalam pelayanan kesehatan dalam jangka panjang,” kata Augie.

Ke depan, Augie melihat perlunya mengembangkan cara-cara baru dalam memberikan layanan kesehatan, termasuk melalui pemanfaatan teknologi digital.

Sebelumnya, klaim asuransi naik signifikan hingga mencapai 32,9% pada kuartal III 2023. Faktor pendorongnya adalah beberapa faktor, salah satunya adalah biaya rumah sakit yang melambung.

Menurut AAJI, manfaat asuransi kesehatan akan meningkat sebesar 32,9% per September 2023 menjadi Rp 15,24 triliun. Untuk pertama kalinya, biaya klaim kesehatan lebih tinggi dibandingkan klaim kematian.

Baca Juga  Mahkamah Konstitusi Mulai Sidang Sengketa Pilpres, Rupiah Turun ke Rp 15.850/USD

Presiden Direktur MSIG Life Vianto Chen mengatakan kenaikan klaim didorong oleh jumlah perusahaan asuransi individu, sedangkan asuransi kelompok menurun. Penyebabnya adalah beberapa faktor.

Faktor pertama adalah isu inflasi layanan kesehatan yang diperkirakan meningkat sebesar 15%. Kedua, adanya overcharging, yaitu overcharge dari pihak rumah sakit. Istilah tersebut kemudian dikenal dengan istilah overuse.

“Mungkin karena manfaat asuransi modern bisa sangat tinggi, sampai total Rp 35 miliar, jadi mungkin yang disebutkan Rp 100 juta, tapi plafonnya Rp 35 miliar. Jadi ada kecenderungan menambah (perlakuan) pada sesuatu yang tidak penting,” kata Wianto dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (6/2/2024).

Terkait overutilisasi, Vianto mengaku sudah berdiskusi dengan asosiasi, OJK, dan Kementerian Kesehatan mengenai kemungkinan penghapusan overutilisasi di rumah sakit ini. Sejumlah keputusan juga telah disiapkan.

“Saya ingin menekankan bahwa di Singapura dan negara-negara maju ada pengurangan yang harus dibayar oleh pelanggan. Jadi kalau ada pembayaran dari pihak rumah sakit, Anda cek juga tagihannya. Itu tidak ada di Indonesia. Jadi tidak seperti itu. Tidak peduli berapa pun tarifnya,” katanya.

Faktor ketiga adalah permasalahan klien yang datanya biasanya tidak sesuai dengan ketentuan penerapan kebijakan.

“Nantinya akan dilakukan upaya menjalin beta exchange antar anggota AAJI sehingga ada credit scoring. Jadi nanti kita tahu kalau masyarakat punya hak untuk tidak mendapat asuransi,” jelasnya.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

3 Izin Asuransi Masalah Dicabut, OJK Terus Pantau 7 Lagi

(mx/mx)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *