Patung ini pernah dibuang oleh satpam bioskop, kini dia menjadi raja film Indonesia.

Uncategorized142 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Hanya karena Raam Punjabi lahir di Surabaya tidak membuat hidupnya istimewa. Orang tua mengetahui aktivitas mana yang penting dan mana yang tidak.

Dalam hal ini, kehidupan masa kecil Raam biasa-biasa saja. Ia tidak dimanjakan dengan berbagai keistimewaan yang dinikmati keluarganya, termasuk akses hiburan.

Saat itu, di tahun 1950-an, salah satu hiburan favorit masyarakat adalah bioskop. Raama yang masih remaja juga suka menonton film di sana. Sayangnya, ayahnya tidak mengizinkannya menonton film.

Alasannya sederhana: Saya tidak punya uang tambahan. Bagi ayah saya, menonton film adalah aktivitas yang memungkinkannya mengeluarkan uang. Apalagi harga tiket saat itu sekitar 1-3 rupee tergantung kelasnya – setara dengan uang jajan Raam selama seminggu.

Apakah Anda pikir Anda lebih suka menonton film atau tidak ngemil selama seminggu?

Apalagi harganya yang terlalu mahal untuk keluarga Raam, sehingga menonton film tersebut tidak wajib. Meski begitu, sang ayah tetap akan mengajak keluarganya untuk bergabung dalam kelompok tersebut dengan syarat anak-anaknya memiliki nilai yang bagus.

Sadar bahwa tuntutan ayahnya sulit dipenuhi dan ditambah dengan keinginan besar untuk menonton film, Raam tak jadi gila.

“Setahu saya, banyak satpam bioskop yang cukup ramah dan baik hati. Langkah pertama saya tentu saja mengenal penjaga keamanan bioskop dan mulai sering ngobrol dengan mereka. Saya sudah berusaha setengah mati untuk menemukan topik lucu untuk dibicarakan,” kata Raam, seperti dikutip Tahap kehidupan Raam Punjabi (2005).

Setelah itu, dan sepertinya penjaga itu sudah cukup bersenang-senang, Raam melepaskan “tembakan” yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun.

“Tuan, saya masih kecil. Saya akan pergi melihatnya, Pak. Duduk di depan rombongan tentu tidak ada salahnya,” desaknya.

Baca Juga  Dibuka Pandu Shahrir, peserta Investment Expo 2023 memadati

Pada prinsipnya, sulit bagi orang dewasa untuk menolak rayuan anak kecil yang menawan. Alhasil, penjaga pun langsung mengizinkan Raam kecil menonton film tersebut di bioskop. Tentu saja posisi Raam saat itu sedang gelap. Jika penjaganya mengetahuinya, dia pasti akan dilarang. Untungnya dewi Fortuna selalu berada di sisi Raam.

Dalam hampir 20 pemutaran rahasia film ini, Raam tidak pernah tertangkap. Ia bisa leluasa menonton film-film bagus yang sedang tayang, baik itu dari Hollywood maupun film India favoritnya. Namun penjaga mengizinkan Raam menonton film di kursi kelas tiga dan segera pulang sebelum film berakhir.

Meski demikian, bukan berarti cara tersebut tidak pernah diketahui petugas. Raam diusir beberapa kali. Namun, hal tersebut tetap tidak membuatnya menyerah dan mengulanginya lagi dan lagi.

Pada akhirnya, betapapun cerdiknya tupai itu melompat, ia akhirnya terjatuh. Saat ini, pada tahun 1956, Raam dan saudaranya sedang menonton film. Aladdin dan Lampu Ajaib (1952) di bioskop, ditangkap polisi.

Polisi datang ke bioskop dan menangkap mereka di halaman bioskop. Tanpa basa-basi lagi, polisi langsung membawa mereka ke kantor polisi.

Rupanya, alasan polisi bertindak demikian karena film tersebut ditujukan untuk anak-anak berusia 13 tahun ke atas. Sedangkan Raam dan kakaknya belum genap berusia 13 tahun. Artinya mereka tidak diperbolehkan masuk.

“Pikiran saya penuh dengan kekhawatiran. Kami bertiga gemetar ketakutan,” kenang Raam.

Sesampainya di kantor polisi, mereka ditanyai tentang usia mereka dan mengapa mereka menonton film berusia 13 tahun ke atas. Apalagi mereka tidak punya tiket.

Singkatnya, hanya Raam yang dipulangkan dari interogasi. Kedua kakaknya diperbolehkan berhubungan seks lagi sejak mereka berusia di atas 13 tahun.

Baca Juga  Rupee Masih Lemah, Implikasinya Menunggu Penurunan Suku Bunga The Fed?

“Hati saya sangat sedih. Saya menangis sepanjang jalan,” tutupnya.

Meski begitu, kejadian ini sendiri merupakan berkah bagi Raam. Pasalnya, selain aksi Raam saat menonton film, di sinilah ketertarikannya terhadap dunia film tumbuh.

Belakangan, Raam yang sebelumnya dilarang berakting dan diusir dari bioskop, mendirikan perusahaan film ternama PT Tripar Multivision Plus. Melalui perusahaan tersebut, Raam memproduksi film-film berkualitas dan legendaris yang menjadikannya raja perfilman Indonesia.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel berikutnya

Rumah Produksi Raam Punjabi Resmi IPO, Apakah Sahamnya Layak Dibeli?

(MFA/MFA)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *