Pendapatan Rp 116 triliun dan laba Rp 8 triliun

Uncategorized42 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten produk tembakau konsumen Hanjaya Mandala Sampoerna (HMSP) mencatatkan kenaikan laba yang signifikan. Pada tahun 2023, HMSP mencatatkan laba bersih sebesar Rp8,10 triliun, naik 28% dari tahun sebelumnya sebesar Rp6,36 triliun.

Namun, kinerja HMSP tercatat berada dalam tren menurun, dengan laba bersih yang semakin menurun setiap tahunnya. Tahun lalu, pendapatan HMSP sebesar Rp 115,98 triliun, artinya rasio laba bersih (NPM) hanya 6,98% terhadap pendapatan perseroan.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi dengan emiten produk tembakau tersebut?

Seperti emiten konsumen lainnya, beban pokok pendapatan menjadi item terbesar yang menggerogoti pendapatan perusahaan. Tahun lalu, beban inti HMSP sebesar Rp 96,65 triliun atau setara 83,33% laba perseroan.

Selain itu, terdapat beban penjualan dan beban administrasi umum masing-masing sebesar Rp7,52 triliun dan Rp2,85 triliun. Total ketiga beban utama tersebut mencapai Rp 107,02 triliun atau setara dengan 92% pendapatan HMSP.

Khususnya, pita pajak menjadi beban terberat bagi HMSP. Biaya pita cukai yang terus meningkat dari tahun ke tahun tidak diimbangi dengan kenaikan harga rokok yang dijual secara eceran ke konsumen secara signifikan. Salah satu alasannya adalah untuk mempertahankan pangsa pasar produk tembakau yang semakin kecil setiap tahunnya. Secara umum, seluruh pelaku industri tembakau menaikkan harga jual secara konservatif, dan biasanya kenaikan ini terjadi secara bersamaan antar kompetitor.

Foto: Beban Umum, Penjualan, Umum dan Administrasi HMSP (Sumber: Lapkeu 2023)
Beban pokok, penjualan, umum dan administrasi HMSP (Sumber: Lapkeu 2023)

Tahun lalu, nilai pita pajak HMSP tercatat mengalami penurunan namun masih menyumbang 65% dari total beban perseroan atau Rp 69,15 triliun.

Baca Juga  Gibran Sebut IKN Didanai Swasta, Ini 10 Investor Besarnya

Indikator keuntungan emiten rokok sangat bergantung pada kebijakan tarif cukai. Pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali memutuskan untuk menaikkan tarif cukai rokok sebesar 10% pada awal tahun 2024. Alhasil, industri rokok pun harus kembali memperkuat posisinya.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel berikutnya

Sampoerna buka dua pabrik baru di Kretek, investasi Rp 638 miliar

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *