Rupiah Melemah, Dolar Kembali ke Rp 16.000?

Uncategorized30 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia Rupee melemah terhadap dolar AS setelahnya telah menguat signifikan selama 2 hari perdagangan sebelumnya.

Laporan dari RefinitifHari ini, Kamis (16 Mei 2024), rupiah dibuka melemah 0,12% di Rp 15.940 per dolar AS. Hingga pukul 10.00 WIB, rupiah menembus Rp 15.985 atau kembali mendekati level psikologis Rp 16.000.

Sedangkan DXY pada pukul 09.05 WIB naik menjadi 104,65 atau naik 0,15%.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengumumkan bahwa pada bulan April 2024, tingkat inflasi konsumen AS tercatat pada tingkat tahunan sebesar 3,4% (year-on-year). Angka ini sesuai dengan perkiraan konsensus Trading Economics sebesar 3,4%. Laju inflasi tersebut mengalami penurunan dibandingkan periode Maret 2024 yang sebesar 3,5%.

Secara bulanan, inflasi AS tercatat sebesar 0,3% pada April 2024, turun dibandingkan Maret sebesar 0,4%.

Inflasi inti, tidak termasuk harga energi dan pangan, juga melambat. Inflasi inti tercatat sebesar 3,6% (YoY) pada April 2024, naik dibandingkan 3,8% (YoY) pada Maret 2024. Secara bulanan, inflasi inti juga turun menjadi 0,3% pada April 2024 dari 0,4% pada Maret 2024.

Perlambatan inflasi dan stagnannya penjualan ritel menunjukkan adanya perlambatan permintaan dalam negeri. Hal ini sejalan dengan tujuan Federal Reserve (Fed) untuk mencapai “soft landing” bagi perekonomian AS.

Kajian CME FedWatch Tool juga menunjukkan adanya kemungkinan The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali, dengan total 50 basis poin (bps).

Hal ini menjadi angin segar bagi pasar keuangan domestik. Jika penurunan suku bunga benar-benar terjadi, maka tekanan terhadap rupee akan minimal.

Hari ini, Jumat (17/5/2024), sederet data ekonomi Tiongkok akan dirilis. Jika hasilnya sesuai ekspektasi, maka rupee diperkirakan akan semakin menguat.

Baca Juga  Ada risiko BI rate naik dan rupee melemah, pasar berharap BI berhati-hati

Produksi industri Tiongkok diperkirakan meningkat menjadi 5,5% pada bulan April, naik dari 4,5% pada bulan Maret, menurut Trading Economics. Produksi industri Tiongkok naik 4,5% di bulan Maret, lebih lambat dari kenaikan 7% pada periode Januari-Februari dan di bawah perkiraan pasar sebesar 5,4%.

China juga akan merilis data penting lainnya yaitu penjualan ritel bulan April. Perkiraan konsensus adalah penjualan ritel akan meningkat menjadi 3,8%, naik dari 3,1% di bulan Maret.

Jika produksi industri dan penjualan ritel meningkat sesuai ekspektasi, diharapkan dapat memberikan dorongan positif bagi pasar keuangan Indonesia. Pada saat yang sama, Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar yang memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia.

RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Data AS dan situasi global tidak stabil, rupiah melemah ke Rp 15.860 per dolar AS.

(mza/mx)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *