Saham IHSG anjlok lebih dari 1%, ternyata jadi penyebabnya

Uncategorized28 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,63% pada perdagangan sesi I awal Mei 2024.

Gagasan “jual di bulan Mei dan pergi” terus menjadi ancaman bagi investor saham.

Berdasarkan data penutupan perdagangan saham sesi I Kamis (5/2/2024), terdapat 392 saham melemah, 174 saham menguat, dan 191 saham stagnan. Saham yang diperdagangkan berjumlah 11,453 miliar lembar senilai Rp 8,355 triliun dengan frekuensi 755.411 kali.

Senior Investment Information Officer Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nathan Aji Gusta Utama mengatakan, ambruknya pasar saham Indonesia saat ini disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya, sentimen kebijakan bank sentral The Fed, beberapa data perekonomian dalam negeri.

“Isu yang menentukan sekarang adalah The Fed,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (2/5).

Seperti diketahui, bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve System (FRS), untuk keenam kalinya berturut-turut pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari kembali mempertahankan suku bunga dasar di level 5,25-5,50%. Waktu Indonesia (02/05/2024).

The Fed menegaskan tidak akan ada kenaikan suku bunga pada tahun ini. Namun, mereka juga menyebut belum ada kemajuan signifikan dalam penurunan inflasi sehingga mereka akan menunggu lebih banyak data pendukung sebelum memangkas suku bunga acuan.

The Fed pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan suku bunga sebesar 525 bps. dari Maret 2022 hingga Juli 2023. Kemudian mereka mempertahankan suku bunga di level 5,25-5,50% pada September, November, Desember 2023, Januari 2024, Maret. 2024 dan Mei 2024

“Inflasi telah stabil selama setahun terakhir, namun tetap tinggi. Beberapa bulan terakhir hanya terlihat sedikit kemajuan dalam mendorong inflasi menuju target 2%,” kata The Fed dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga  Saling Tuduh Selingkuh, Ternyata Begini Hubungan Ari Wibowo dan Inge Anugrah di Luar Sidang

Menurut dia, isu The Fed memberikan reaksi negatif investor terhadap emiten dalam negeri. “Penggerak IHSG secara eksternal terkait dengan dinamika The Fed. Sehingga menimbulkan sentimen negatif bagi perusahaan,” ujarnya.

Sementara dari sisi domestik, hal ini dipengaruhi oleh angka inflasi di Indonesia yang masih berada di bawah ekspektasi. Meski demikian, indikator inflasi tetap stabil dan terkendali.

Badan Pusat Statistik (CSTA) mencatat inflasi pada April 2024 mencapai 0,25% secara bulanan (month to Month). Sementara itu, inflasi secara tahunan mencapai 3,0% (y/y), dan secara tahunan sebesar 1,19% (sejak awal tahun). Laju inflasi bulanan pada bulan April lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya dan dari posisi April 2023.

Sementara berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 10 institusi, inflasi April 2024 diperkirakan mencapai 0,33% secara bulanan (m/m).

Hasil survei juga menunjukkan inflasi (disetahunkan) pada bulan April sebesar 3,08%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Maret 2024.

Sebagai referensi, inflasi Maret 2024 tercatat sebesar 3,05% (y/y) dan 0,52% (mtm), sedangkan inflasi inti mencapai 1,77% (y/y).

Sementara itu, Wakil Direktur Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilian Nicodemus telah merevisi target IHSG hingga akhir tahun ini. Dengan demikian, daya tarik berinvestasi pada aset berisiko bisa menurun dan beralih ke aset yang lebih aman seperti obligasi, deposito, atau emas.

“IHSG kita lihat masih di 7350 – 7460 di akhir tahun. Potensinya di bawah 7000, tapi bisa jadi kecil. Tapi apa pun bisa terjadi,” tutupnya.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel berikutnya

Ternyata, hal inilah yang membuat indeks IHSG anjlok 1,3%.

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *