Sinyal ekonomi yang kompleks setelah kenaikan BI rate

Uncategorized31 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah kalangan, mulai dari perbankan hingga dunia usaha, memperkirakan kondisi perekonomian Indonesia bisa memburuk akibat dampak keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan atau BI rate pada April 2024 menjadi 6,25%.

Dari sisi bisnis, peringatan mengenai potensi tekanan perekonomian akibat kenaikan BI rate disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani dan analis kebijakan ekonomi Apindo Ajib Hamdani. Mereka menyoroti kemungkinan terjadinya resesi ekonomi pada tahun 2024.

Shinta mengatakan dengan kenaikan suku bunga acuan, target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 5,2% pada tahun ini akan sulit tercapai. Sebab, beban bunga pinjaman akan tinggi untuk ekspansi usaha dan konsumsi masyarakat.

“Tujuan ini akan sulit dicapai jika suku bunga terlalu tinggi atau tidak terjangkau, sementara kondisi geopolitik juga menekan potensi investasi dan ekspansi usaha. Oleh karena itu, sedapat mungkin beban penciptaan peningkatan efisiensi usaha, investasi, dan ekspor berada pada beban badan usaha dalam negeri. perlu ditingkatkan “Efisiensinya tidak meningkat,” tegas Shinta mengutip pernyataannya, Kamis (25/04/2024).

Sementara itu, Ajib menambahkan, kebijakan suku bunga BI yang dinilai agresif dapat menimbulkan tiga permasalahan bagi perekonomian Indonesia. Pertama, perbankan cenderung menaikkan suku bunga kredit, sehingga dunia usaha akan mengalami peningkatan biaya dana.

“Hal ini akan berdampak pada kenaikan harga pokok penjualan (NWT) produksi. Ini hal pertama yang perlu dimitigasi yaitu munculnya inflasi akibat kenaikan harga pokok produksi atau cost inflation,” ujarnya. dikatakan. Ajeeb.

Kedua, karena melemahnya daya beli masyarakat. Dengan berkurangnya likuiditas dan potensi kenaikan harga komoditas, daya beli masyarakat akan tertekan. Selain itu, pemerintah juga memiliki ruang keuangan yang relatif terbatas untuk mendukung daya beli masyarakat melalui skema bantuan sosial (bansos).

Baca Juga  Ketika pengurus OJK menjadi kontak darurat dan dikenakan tunggakan gaji

Menurut dia, tantangan ketiga adalah kelesuan ekonomi. Menurut Ajeeb, pertumbuhan ekonomi saat ini menghadapi kendala yakni tren menurun. Pada tahun 2022, pertumbuhan ekonomi kumulatif mencapai 5,31%, dan pada tahun 2023 hanya 5,05%.

“Ketika pemerintah menempuh kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan, maka pertumbuhan ekonomi yang diharapkan akan semakin sulit dicapai,” kata Ajeeb.

Sejumlah bankir bahkan mengaku terkejut dengan keputusan BI yang menaikkan suku bunga acuan pada April 2024, meski alasannya untuk mengendalikan stabilitas nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga di atas Rp 16.000. Sebab, menurut para bankir, perekonomian Indonesia belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi Covid-19.

Direktur Utama Allo Bank Indonesia (BBHI) Indra Utoyo mengatakan hal tersebut. Menurut dia, tingginya suku bunga akan berdampak langsung pada pendanaan industri perbankan, mengingat ketidakpastian masih menjadi fokus utama dalam pengelolaan risiko keuangan.

Dapat disimpulkan bahwa industri perbankan akan mendapat tekanan untuk mempertahankan NII/NIM pada tahun 2024, sementara nilai tukar rupee diperkirakan akan tetap stabil setelah BI menaikkan suku bunga, kata Indra.

Jika melihat indikator perekonomian, langkah BI menaikkan suku bunga kurang relevan dengan kondisi saat ini, ujarnya. Pasalnya, jelas Indra, pengendalian laju inflasi yang masih berada pada level baik yaitu 3,05% masih dalam batas target Bank Indonesia sebesar 2,5% ± 1%.

Direktur Utama Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (BJTM) Busul Iman menambahkan, pihaknya bahkan mau tidak mau melakukan asesmen terhadap PPK yang menurutnya sensitif terhadap perubahan suku bunga.

“Kenaikan suku bunga secara makro akan mempengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat, serta sektor riil. Sebagai pelaku industri perbankan, tentunya kita harus melakukan penilaian, terutama dari sisi dana pihak ketiga, terutama yang sensitif terhadap suku bunga,” kata Busrul dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Rabu (24 April). 2024).

Baca Juga  Kebiasaan Lo Kheng Hong Umbral yang Bikin WNI Miskin

Direktur Utama Bank Pembangunan Daerah (BJBR) atau BJB terbesar di Jawa Barat dan Banten, Yuddi Renaldi, juga menilai keputusan menaikkan BI rate secara umum akan semakin memberikan tekanan pada perbankan dari sisi biaya pendanaan.

Likuiditas juga mungkin mengetat tahun ini, katanya. “Bank harus mengelola dana pihak ketiga secara optimal dengan mencari sumber pendanaan yang efisien,” kata Yuddi kepada CNBC Indonesia, Rabu (24 April 2024).

[Gambas:Video CNBC]

Artikel berikutnya

Oleh karena itu, BI mempertahankan suku bunga dasar sebesar 6%.

(tangan/pengusir hama)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *