Uang pengusaha asal RI berbisik datar, tapi ternyata parkirnya ada di sini

Uncategorized219 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Fungsi intermediasi perbankan membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) khawatir. Ia berpendapat bahwa bank terlalu mencari keamanan dengan menempatkan sebagian besar dananya pada surat berharga. Sementara menurut dia, para pelaku usaha melaporkan peredaran uang saat ini sedang mengering.

Hal itu diumumkan pada rapat tahunan Bank Indonesia (PTBI) pada Rabu (29/11/2023). Menurut dia, ada indikasi hal tersebut disebabkan pembelian instrumen yang diterbitkan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.

“Saya imbau semua perbankan harus berhati-hati dan hati-hati, tapi tolong dorong lebih banyak kredit, khususnya UMKM,” kata Jokowi seperti dikutip, Sabtu (12/9/2023).

“Mungkin uang yang terlalu banyak akan membeli SBN atau uang yang terlalu banyak akan membeli SRBI atau SVBI. Jadi lebih sedikit dana yang mengalir ke sektor riil,” imbuhnya.

Kredit bank swasta lesu

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai surat berharga yang dimiliki perbankan per September 2023 sebesar Rp 1.889,7 triliun, naik 3,59% year-on-year (YoY). Pada periode yang sama, pinjaman yang diberikan perbankan kepada pihak ketiga tumbuh sebesar 8,96% year-on-year menjadi Rp6.837,3 triliun.

Namun jika dicermati lebih detail, pertumbuhan surat berharga bank swasta nasional hampir setara dengan pertumbuhan kredit yang diberikan kepada pihak ketiga. Pada September 2023, sekuritas naik 7,15% per tahun dan pinjaman naik 7,84% per tahun.

Demikian pula cabang bank asing lebih memilih menginvestasikan dananya pada surat berharga. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan surat berharga sebesar 35,79% year-on-year, sedangkan pinjaman turun sebesar 4,71% secara tahunan.

Hal ini berbeda dengan bank-bank milik negara yang pertumbuhan kreditnya mencapai 10,98% per tahun dan surat berharga terkontraksi 2,38% per tahun.

Baca Juga  BUMN Farmasi Terjebak Masalah Finansial, Berikut Daftar Penyakitnya

Kepala Kantor Pengawasan Perbankan Diane Ediana Ray mengatakan setiap bank memiliki risk appetite masing-masing. “Kami melihat alokasi portofolio dan pengelolaan likuiditas juga berbeda,” ujarnya.

Ia juga menyatakan, bank tidak lepas dari fungsi utamanya yaitu menghimpun dana dari masyarakat dan selanjutnya menyalurkannya.

Namun OJK juga mendorong perbankan untuk memberikan pinjaman khususnya kepada UMKM. “Saya pikir bank mempunyai tanggung jawab itu,” katanya.

Sementara itu, Senior Vice President Lembaga Perbankan Pembangunan Indonesia (LPPI) Trioxa Siahaan, penyaluran pinjaman perbankan akan disesuaikan dengan kondisi perekonomian. Saat ini, roda perekonomian berputar lambat akibat tingginya suku bunga dan tekanan inflasi.

Petunjuk pengalokasian kredit aktif tentunya harus memperhatikan prinsip kehati-hatian dan memastikan kredit yang sehat, terutama dalam situasi perekonomian yang belum sepenuhnya membaik, ujarnya kepada CNBC Indonesia.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Batas maksimal QRIS Rp 10 juta, BI: Boleh ditambah!

(dce)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *